"Cici" Sri Sumarni

Live life for a life. Love for love itself

Tulisan dan Tanda Tangan Ku Dianalisa Ahli Graphology

Beberapa waktu yang lalu saya tergerak untuk membuka akun twitter seorang teman dari orang yang saya follow, @YosandyLS dari mention @AidilAKBAR. Ketika saya buka akun @YosandyLS saya menemukan informasi bahwa beliaunya adalah seorang ahli graphology dan Aksaralogy alias membaca tulisan dan tanda tangan orang lain. Dan saya juga menemukan informasi bahwa selama bulan Mei beliaunya mngadakan kuis yang hadiahnya dalah analisa hasil tulisan dan tanda tangan para pemenangnya. Lalu saya buka tautan web beliau yang berisi syarat dan ketentuan kuis. Wow, ternyata kuisnya sangat mudah untuk diikuti meski saya juga melakukan kesalahan saat pertama kali mengikuti kuis tersebut. Hanya dengan meritwit twit beliau yang berkode #GProsperity pada pukul 19.00 keatas, ritwitnya harus “Wealth RT”. Hadiah diberikan kepada 5 orang pertama yang meritwit dengan benar.

Saat itu saya memutuskan untuk ikut kuis tersebut. Kenapa? Karena saya percaya tidak ada yang benar-benar kebetulan di dunia ini. Intuisi dan gerak tangan saya mengklik akun @YosandyLS bukanlah kebetulan dan tanpa tujuan. Itu adalah sebuah pertemuan yang dengan entah cara apa diatur oleh “tangan-tangan tak terlihat”. Memang pada saat itu saya sedang dalam kondisi labil, dalam kondisi sulit memahami dan mengenali perubahan-perubahan diri setelah beberapa waktu. Saya dengan sadar mengikuti kuis tersebut bukan untuk menjadi KAYA RAYA seperti dalam mentions beliau, menjadi KAYA RAYA dan SUKSES dengan mengenali potensi diri. Tapi saya membutuhkan orang lain untuk menunjukan siapa saya, untuk mengenali diri saya lagi <— sok galau yah hehe

Beberapa hari kemudian, tepatnya pada 7 Mei 2012, saya sangat antusias menunggu jam 19.00 WIB san saya dengan semangat meritwit satu twit beliau. Memang benar bahwa terlalu bersemangat dan menggebu-gebu sering membuat terburu-buru dan tidak bisa berfikir jernih. Jadilah saya meritwit salah satu twit –>“Wealth RT” @YosandyLS Siapkan diri jd Pemenang FREE Analisa IMPIAN 2012 & Tanda Tangan #GProsperity 070512 malam ini http://bit.ly/IDqwd7 !

Setelah sekitar 2-3 jam kemudian saya cek TL, “kok tidak ada mention dr @YosandyLS dalam hati saya. Lalu saya cek twit-twit @YosandyLS, salah satu twitnya memberikan info banyak yang salah ritwit, lalu saya cek lagi syarat dan ketentuan kuis dan cek twit-twit beliau pada hari itu. Yah ternyata saya salah ritwit. Dana tertawa terpingkal-pingkalah saya menyadari kecerobohan atas sikap terburu-buru saya. Malu sih, tapi tidak membuat saya mundur, saya pasti akan memenangkan kuis ini pada usaha saya yang berikutnya.

Hari berikutnya saya tidak meritwit, masih agak malu, baru 3 hari setelahnya setelah pukul 19.00 saya ingat “ini saatnya harus ritwit”. Dengan memastikan twit yang akan saya ritwit adalah yang dimaksud untuk kuis saya lalu meritwit dengan WEALTH RT @YosandyLS : #GProsperity 100512 “Kisahhttp://bit.ly/qIHNgp di balik Tanda Tangan Palsu !” <– pake huruf besar semua hahaha…. Waktu itu sudah ada beberapa twips yang meritwit dan di RT sama @YosandyLS, jadi kalau sampai salah RT betapa saya lebih bodoh dari pada keledai. Sebelum tidur saya cek TLdan eng ing eng….., saya dimention sebagai pemenang kuis. Malam itu saya cumaritwit, lalu saya memilih untuk membaca-baca twit orang-orang yang saya follow dan menutup TL (terlalu senang bisa jadi juga berpotensi membuat hal-hal negatif).

Yang berkecamuk di kepala saya kemudian adalah apa yang harus saya tulis. Saya harus menuliskan impian-impian saya khususnya impian untuk tahun ini dengan judul “Resolusi Impian 2012″. Seharian itu saya tidak terlalu disibukkan oleh pekerjaan-pekerjaan saya, tapi hingga siang-sore hari saya tak kunjung menulis apa yang ingin saya tulis. Kemudian saya putuskan untuk menulisnya setelah jam kantor usai, jadi saya bisa fokus untuk menuliskan impian-impian saya dan juga beberapa hal yang memang ingin saya tulis.

Ketidakfokusan saya menuliskan impian-impian saya bisa jadi menggambarkan ketidakfokusan mimpi saya. Akhirnya saya awali tulisan saya dengan sedikit curhat, yang kemudian ini mungkin ditangkap @YosandyLS bahwa saya adalah pribadi yang tertutup, suka mengambil jarak dan hanya terbuka kepada orang yang saya merasa nyaman. Ditengah-tengah menulis pun HP saya berdering dan saya harus berhenti menulis untuk beberapa lama (sekitar 30 menit) untuk berbincang-bincang dengan teman di telefon. Kemduain baru say melanjutkan menulis lagi. Mungkin dari guratan penanya kelihatan ya pak @YosandyLS?

Selesai saya menulis, membubuhkan tanda tangan dan nama terang & akun twitter saya, saya menscan dan mengirimkannya ke service@YosandyLipSan.com. Lega dan bangga rasanya bisa menyelesaikan apa yang harus ditunaikan, ngetwitlah saya memberitahukan bahwa saya sudah menulis impian saya dan mengirimkannya ke email yang dimaksud. Tak lupa saya berterimakasih kepada @ev4S yang tidak saya kenal tapi telah memberikan semangat saya untuk menuliskan impian saya.

Lega sekali, dan saya siap dengan segala hasil analisa @YosandyLS termasuk dia menemukan sisi-sisi buruk saya. Saya siap menerimanya karena saya memang menginginkannya. Seperti setiap orang yang tetap membutuhkan orang lain untuk memberitahunya bahwa dia telah berbuat slah, seperti juga para perempuan yang selalu membutuhkan untuk dibilang cantik meski begitu adanya.

Esok harinya saya menerima mention –> @Cici_SriSumarni boleh check emailnya, hadiah #GProsperity100512 sudah dikirim, tingkatkan keyakinan ya!. Lalu dengan tertawa aneh (buka tertawa kunthi lho) saya membuka email saya. Saya baca hasil analisa @YosandyLS atas tulisan yang berisi curhat dan impian saya – lalu hening sejenak – kemudian saya membaca ulang hasil analisa tersebut dengan sedikit pelan dan mengulangi bebrapa kalimat pentingnya.

Hasil analisa tersebut cukup membuat saya galau untuk sesaat. Saya tahu itu benar. Saya sudah berpasrah untuk memintanya mengenali diri saya, yang harus saya lakukan adalah mengakuinya bukan sekedar mengiyakanya dengan tertunduk malu. Lalu saya mentionlah –> kata @YosandyLS sy takut akan masa depan n sy harus memupuk keyakinan,*dlmhati* iya :(  #GProsperity. Kemudian di RT –> Ayo! Pasti sukses Mbak @Cici_SriSumarni: kata @YosandyLS sy takut akan masa depan n sy harus memupuk keyakinan,*dlmhati* iya :(  #GProsperity <– mention ini yang beberapa hari kemudian selalu saya lirik, saya baca ulang dan untuk menyemangati saya.

Terimakasih.

–mungkin akan bersambung (kalo saya ga males mulis) :D

Brida & negeri 5 Menara

Yehaaaaaaaaaa

Lama yah ga up-date soal koleksi novel, wow dr January 25, 2011 lebih dari 1 tahun. Padahal ada seh beberapa novel yg sudah aq koleksi selama kurun waktu 1 tahun itu tapi ga sempet up-date :-(

Koleksi terbaru novel q (meski bukan novel baru) adalah Brida karya Paulo Coelho dan Negeri 5 Menara karya Ahmad Fauzi. See, bukan novel baru kan. Sayangnya ni novel baru dateng tadi pagi di kantor, jadi long weekend kemarin terlewat tanpa baca novel.

Cerita apa dan gimananya besok-besok lagi ya. Mo tenggelam mencumbui Brida dulu :)

 

BISNIS

Dalam acara penghargaan “The Heroes 2012” Kick Andy, salah satu pemenang, yaitu Fauzanah, guru matematika, menyampaikan “speech”-nya bahwa bangsa Indonesia perlu banyak berhitung. Pernyataannya ini tentu membuat kita berpikir, apakah kemampuan dan kebiasaan kita dalam berhitung di bawah rata-rata? Semua orang bisa melakukan kalkulasi, apalagi bila didukung alat bantu hitung seperti kalkulator. Namun, kita lihat memang banyak orang salah menghitung bisnisnya. Bukankah kita juga sering melihat ada perusahaan yang dulunya ‘make money’, ternyata setelah beberapa tahun malah macet dan tidak langgeng lagi. Pertanyaannya, bukankah dalam  menjaga laba-rugi perusahaan sudah ada pakemnya? Sudah tinggal mengikuti rumus dan membaca ‘bottomline’-nya? Nyatanya, terutama akhir akhir ini, kita sering dibuat terkejut dengan kesalahan-kesalahan hitung yang luar biasa. Bahkan, antara subsidi BBM dan tidak mensubsidi saja perbedaannya sungguh signifikan.

Kita segera bisa melihat bahwa kesuksesan dan kelanggengan keadaan keuangan suatu lembaga, perusahaan ataupun negara tidak bisa dihitung sekedar menggunakan rumus tambah kurang biasa lagi. Ada setumpuk faktor yang harus diperhitungkan di samping informasi yang tersedia di sana-sini. Tak jarang faktor yang dipertimbangkan sedemikian tidak jelasnya, seperti dampak emosional, sosial, hubungan baik, passion, prospek masa depan, sehingga terkadang tidak ada bedanya dengan rumor. Namun, inilah realitas yang kita hadapi. Perhitungan kita harus matang dan yang tidak selalu sebatas yang di “atas kertas” agar perusahaan atau lembaga bisa berjalan dengan nafas panjang dan berkekuatan menghadapi kompetisi, perubahan dan tuntutan pelanggan.

Di sebuah perusahaan “trading”, di mana banyak orang luar mengomentari bahwa nilai yang paling penting di perusahaan tersebut adalah “uang”, tiba tiba ditemukan bahwa ‘business acumen’ pada eksekutifnya lah justeru yang perlu ditingkatkan. Gejalanya adalah kurangnya inisitatif pada eksekutif, tidak adanya kreativitas dalam melihat peluang, tidak beraninya menyambut risiko dan solusi masalah yang itu itu lagi. Bahkan, orang keuangannya pun sudah tidak memiliki ‘business acumen’ yang kuat. Namun, kemampuan berhitung kita betul-betul diuji saat sekarang ini. Siapa sih yang 10 tahun yang lalu menyadari kekuatan media sosial dalam berjualan? Sekarang, seorang pelajar SMK  saja bisa mencetak angka penjualan 5 juta sehari sekedar dengan penjualan melalui Facebook. Buku-buku dan teori mengenai “Word of Mouth Marketing” baru popular dalam dekade terakhir ini saja. Siapa yang percaya, bahwa melalui gosip sebuah usaha bisa ramai dan berkembang pesat. Disinilah kita lihat adanya kebutuhan akan kemampuan “berhitung plus” yang menjadi tuntutan jaman.

Jiwa Intrapreneur
Banyak perusahaan kini menyadari bahwa tanggung jawab untuk berhitung memikirkan pertumbuhan tidak bisa lagi diletakkan pada pimpinan perusahaan saja, tidak bisa diatur dengan strategi tahunan saja, namun betul-betul harus dimiliki oleh semua jajaran. Kalau dulu perusahaan masih merahasiakan keadaan keuangan perusahaan terhadap lapisan atau divisi tertentu, namun sekarang pemahaman bisnis perusahaan menjadi persyaratan mutlak bagi karyawan sampai level terendah. Setiap ‘frontliner’ bukan saja perlu tahu, tetapi juga perlu mempunyai ‘sense’ tentang bagaimana perusahaan bisa mencetak laba. Mereka perlu merasakan bagaimana arti pelanggan, bagaimana kepuasan pelanggan meningkatkan bisnis, dan bagaimana kita perlu memerangi persaingan. Bisnis yang tadinya kalkulatif dan bisa diramalkan dengan sempoa, sekarang menjadi upaya yang manusiawi, sangat mengandalkan “manusia”, sangat memperhatikan kepuasan pelanggan, kekuatan ‘networking’ bahkan, keyakinan dari para pengelola yang terkadang sudah tidak bisa dinilai dengan materi semata.

Seorang pebisnis, ataupun sekarang intrapreneur, yaitu karyawan yang harus berjiwa entrepreneur, diharapkan bisa memahami hubungan antara pelanggan, laba, uang yang dipinjam , atau yang dititipkan oleh para investor, dan angka penjualan. Prediksi kesuksesan perusahaan, apakah lembaga berukuran mini seperti toko atau restoran kecil ataupun perusahaan tambang raksasa, tetap harus bersikap waspada terhadap pengembangan customer base, persaingan dagang, harga, dan arus kas. Setiap orang dalam perusahaan perlu menjaga ‘sense of urgency’ nya untuk melakukan transaksi yang benar, keputusan yang tepat ‘timing’ dan kesempatan yang tersedia.

Kekuatan Manusia Penentu Kesuksesan Bisnis
Seorang teman yang memulai bisnisnya dari toko kecil, selalu mengandalkan ‘passion’-nya terhadap produk produk yang disukainya. Dalam mengembangkan  bisnisnya, ia tidak pernah lepas fokus dari  mengandalkan kekuatan pilihan produknya, sehingga tidak ada kekuatan mana pun yang bisa mengalahkan upayanya dalam mengambil keputusan. Ahli keuangan yang berusaha menasehatinya, tetap dikalahkannya, bila keputusan berkaitan dengan memilih dan membeli produk. Bukankah kenyataan ini membuktikan bahwa dalam mengembangkan suatu lembaga, orang sebetulnya bisa mengandalkan keyakinan daripada sekedar memelototi sempoanya untuk menghitung uang?

Keyakinan nyata-nyata bisa memberi nilai tambah pada bisnis, bisa membuat orang membeli lebih banyak, bisa membuat pelanggan lebih setia karena lebih percaya dan malah membuat karyawan juga ikut-ikut yakin. Hal ini membuktikan apa yang dikatakan seorang ahli:” if you pursue your purpose the money will pursue you…”. Ternyata, banyak hal yang tidak bisa dijawab dengan uang. Itulah sebabnya mengapa ada orang yang hanya berbakat untuk investasi, ada orang yang lebih memilih untuk mengembangkan bisnis, dan ada juga orang yang tidak habis habisnya ber-”networking” sampai menemukan jalan yang “ajaib” untuk mengembangkan bisnisnya. Saat sekarang, orang yang hanya mempunyai uang dan tidak berusaha memanfaatkan kekayaan manusiawinya, akan sulit bersaing dan bertahan. Lihat betapa perusahaan seperti Google, Kaskus dan Facebook yang semula begitu tak jelas bagiamana mencetak penjualan , seketika menjadi perusahaan milyarder dolar. Betapa sering juga kita dengar usaha yang mencetak laba hanya karena menjadi pionir. Ini bukti bahwa pemahaman finansial dan kemampuan pemasaran sekarang perlu dilengkapi dengan kekuatan kreativitas, hubungan antar manusia dan “passion”.

From EXPERD - Eileen Rachman & Sylvina Savitri - Dimuat di KOMPAS, 31 Maret 2012

KEPUTUSAN

Dalam sebuah renovasi kecil di kantor, seorang anggota Board of Directors tiba-tiba memanggil pimpro renovasi ruang rapat tersebut. “Saya tidak mau ruangan ini terbuka dan berkaca semua, tolong diganti dengan dinding, karena di ruangan ini harus ada ‘privacy’”. Pimpro dengan sopan mengatakan bahwa penggantian tidak bisa dilakukan lagi, karena biaya akan melampaui budget dan lagipula ruangan tersebut sudah akan digunakan. Ketika anggota direksi tersebut semakin berang, pimpro menunjukkan perubahan-perubahan gambar yang sudah terjadi selama ini, bahkan sudah 8 kali. Di dalam hati, pimpro bergumam: “Siapa suruh tidak ikut rapat?” Pengambilan keputusan memang tidak bisa disepelekan. Pernahkah kita membayangkan betapa mahalnya biaya perubahan yang terjadi akibat keputusan yang tidak matang? Dapatkah kita menghargai keputusan yang sudah di-“ketok palu” dan tidak malah mementahkannya? Pernahkah kita mengatur diri, kelompok, ataupun perusahaan, untuk meningkatkan efisiensi pengambilan keputusan? Pernahkah mandat untuk mengambil keputusan kita tinjau kembali, revisi dan diperkuat, agar supaya efisiensi maupun pengembangan kemampuan manajerial tim kita berkembang? Bukankah bila kita ingin mengembangkan praktik bisnis yang baik bahkan terpuji, kita juga perlu mengelola manajemen risiko dan kemudian mengatur tata cara mengambil keputusan?

Keadaan bisa lebih parah lagi, bila diantara pihak pengambil keputusan, masing-masing bisa mementahkan keputusan yang lain. Salah satu sudah mau maju, yang lain mengatakan: ”tunggu dulu!” Keadaan bagaikan ‘poco-poco’ ini bukan saja menghambat, namun jelas juga merugikan organisasi. Kita juga bisa melihat kejadian, di mana setelah terjadi kesalahan, tim pemutus malah saling tuding, “buang badan” alias cuci tangan, dan masing-masing berteriak: ”bukan saya”. Dalam situasi ini, kita tentu bertanya-tanya, bukankah dalam keadaan genting para pengambil keputusan perlu langsung merapatkan barisan, mengkompakkan diri dan berpikir bersama menemukan jalan keluar, dan bukan malah membuat semua kelemahan terlihat dari luar? Menyadari bahwa pengambilan keputusan merupakan bagian integral dari lembaga tersebut, masihkah kita mengabaikan dan tidak mengaturnya? Bagaimana dengan lembaga-lembaga pemerintah super penting, yang terasa belum siap menanggung risiko dan tanggung jawab atas keputusan beberapa milyar, sementara mereka harus bisa memutuskan dan mempertanggung jawabkan putusan yang nilanya puluhan bahkan ratusan trilyun? Dinamika “corporate governance” ini, bukan menjadi tuntutan di negara kita saja, namun sudah menjadi tren global, yang tidak bisa ditawar tawar lagi, bukan saja oleh lembaga bisnis saja, tetapi juga lembaga pemerintah, swadaya maupun para investornya juga.

Pentingnya Misi dan Patokan
Ada seorang teman yang berkomentar, “Di perusahaan ini, mengambil keputusan pengeluaran uang 5 juta, sama lamanya dengan pengambilan keputusan pengeluaran uang 10 milyar”. Keputusan yang bertele-tele tentu sama merugikannya dengan keputusan yang terburu-buru dan tidak matang. Dalam kondisi yang tidak menentu dan banyaknya kendala yang perlu kita hadapi, yang diperlukan sebetulnya adalah patokan bagaimana pengambilan keputusan ditata.

Seorang ahli manajemen mengemukakan patokan yang mudah diingat, bila kita ingin mengembangkan ‘corporate governance’ yang baik, yaitu: Culture, Leadership, Alignment, System dan Structure, disingkat CLASS. Perusahaan yang menginginkan efisiensi luar dalam, hanya bisa mencapainya dengan menetapkan  standar, mulai dari gaya berpakaian, sikap keterbukaan pada pemimpinnya, bahkan sampai cara berkomunikasi setiap individu dengan orang luar. Lembaga yang mewakili rakyat, misalnya DPR, rasanya pun perlu menyebarkan visi dan misinya secara jelas, mengenai tata cara, tata krama, serta gaya hidup yang dituntut terhadap anggota-anggotanya. Pengaturan mengenai mobil apa yang akan digunakan, suguhan makanan yang dipilih, produk dan gaya interior ruang rapat apa yang akan dimanfaatkan, kesemuanya perlu menggambarkan misi lembaga. Kita sudah melihat bahwa tidak pahamnya anggota kelompok, karyawan ataupun anggota tim terhadap kultur lembaganya seringkali mengakibatkan keputusan yang melenceng. Bila tidak diatur dan berpatokan pada misi yang jelas, kejadian kesalahan dalam pemilihan dan pemutusan sudah pasti akan berulang dan terus terjadi.

Menjaga Mutu & Akuntabilitas Keputusan
Pengambilan keputusan terjadi di setiap jajaran dan bukan melulu tugas pemimpin. Namun, pemimpin-lah yang tetap perlu mengingatkan, menggarisbawahi, dan kalau perlu merestruktur sistem pengambilan keputusannya dari waktu ke waktu. Pemimpin yang baik, tidak mungkin sibuk mempromosikan dirinya saja. Pemimpin perlu sensitif terhadap kebutuhan anak buah dan menyelaraskannya dengan kebutuhan organisasi. Hanya dengan pendekatan seperti inilah, hubungan antara atasan dan karyawan yang paling bawah menjadi dekat, transparan, dan “alligned”.

Keteledoran dalam memperhatikan tata cara mengambil keputusan sudah dibuktikan dengan  kasus-kasus seperti Enron, BP, krisis finansial global di luar negeri, dan juga kasus Lapindo di dalam negeri.  Disaat nilai dan budaya korporasi bisa mengangkat harga diri, ‘competitiveness’ bahkan mengundang investasi, kita pun perlu memfokuskan perhatian pada mutu keputusan dan akuntabilitas dari pemutusnya. Sistem dan struktur pembagian wewenang yang sudah digariskan dan diimplementasikan secara konsisten akan membuat seluruh organisasi seolah mempunyai ‘common language’ dan saling mengerti antara manajemen puncak dan bawahan. Bahkan, orang luar pun tidak bisa melacak, di mana sebetulnya kunci pengambilan keputusan organisasi dan organisasilah yang kemudian akan mendapat manfaat pencitraan dan ‘competitiveness’. Untuk meningkatkan kualitas diri, kita memang  perlu belajar mengambil keputusan yang bermutu, seperti kata pepatah Yugoslavia “If you wish to know what a man is, place him in authority”.

 

Dimuat di KOMPAS, 28 Januari 2012 - Eileen Rachman & Sylvina Savitri - EXPERD Consultant

SOPA STRIKE

Join Our Censorship Protest!.

Saat ini Parlemen Amerika tengah membahas RUU Penghentian Pembajakan Online (Stop Online Privacy Act) dan RUU Perlindungan Kekayaan Intelektual ( Protect Intellectual Property Act). RUU yang bertujuan untuk memberantas pembajakan film, musik dan produk lain di dunia maya dikhawatirkan juga akan memberikan wewenang kepada Pemerintah Amerika untuk mensensor isi internet.

Awlnya saya ga begitu mudeng, namun setelah saya tanyakan pada salah seorang teman katanya, implikasi RUU itu akan lebih luas, nantinya kita-kita nih yang ada di luar Amerika akan sangat sulit (hampir tidak bisa) mengakses web yang lokasinya ada di negeri Paman Sam itu dan sebaliknya warga Amerika juga akan sangat terbatas melakukan akses ke luar Amerika. Well secara Amerika negeri paling gembar-gembor soal kebebasan kok jadi terasa ekstrim tuh RUU yah.

Beberapa situs terkemuka seperti Google, Wikipedia, Twitter mengelar protes dengan memblok hitam konten mereka selama 24 jam sejak rabu pagi waktu Amerika. Wah saya juga mau blok item juga ah :D

http://en.wikipedia.org/wiki/Main_Page

http://en.wikipedia.org/wiki/Wikipedia:SOPA_initiative/Learn_more

My Plan [2]

Masih inget betapa menggebu-gebunya saya pada postingan sebelumnya di My Plan ahahahahaaa

Saya jadi tertawa geli, karena ternyata sekarang (sejak awal tahun ini) saya ada di Jakarta (ups). Ngapain? hehe saya dapet kerjaan baru di Jakarta. Well nampaknya impian menggebu2 saya di pertengahan tahun lalu kebelakang harus diredam dulu yah.

Saya sudah hampir setengah bulan di Jakarta, tp baru sempet sharing disini heheee kebanyakan malesnya. Karena saya juga lagi males, jadi cerita dilanjut nanti lagi yah.

Just wish me luck in Jakarta yah guys, katanya Jakarta lebih kejam dari Ibu Tiri, semoga bs menjadi Ibu yang baik hati untuk q :)

INSPIRASI

Sepekan setelah meninggalnya Steve Jobs, banyak orang masih meletakkan foto CEO cemerlang ini ataupun memampangkan logo perusahaan Apple di “profile picture” mereka, seperti facebook, twitter, maupun gadget seperti blackberry. “Tokoh ini nampak begitu sulit dilupakan, beliau begitu menginspirasi”, begitu ungkap banyak orang. Kita terinspirasi tidak hanya dengan karya, tapi juga berbagai pidato, prinsip dan seruan yang diungkapkan olehnya. Betapa kita diingatkan bahwa kita perlu memanfaatkan waktu selagi masih hidup. Kita pun diingatkan untuk berdialog dengan diri sendiri. Betapa Steve membakar diri kita dengan slogan sederhana tetapi penuh makna: “stay hungry, stay foolish”. Di sini kita bisa merasakan betapa energi satu orang bisa mempengaruhi begitu banyak orang dengan kekuatan pribadinya. Kita kemudian bertanya-tanya, apakah orang sekaliber Steve Jobs ini memang sulit ditemui sehingga kelangkaannya begitu terasa dan berdampak besar dalam hidup kita?

Orang atau pemimpin yang bisa menginspirasi dan membawa perubahan memang akan selalu kita kenang. Salah seorang putra teman saya, menyimpan kumpulan pidato Bung Karno bahkan sampai hafal semua judul dan ungkapan-ungkapannya. Anak muda ini tidak pernah menyaksikan bung Karno dalam keadaan hidup, namun hanya terinspirasi oleh nama besar dan jalan pikirannya. Michelangelo dan  Leonardo de Vinci menggugah para ahli matematika, ilmuwan, seniman serta penyair lainnya untuk berpikir “beda”, sehingga masa mereka hidup kemudian dinamakan jaman Renaisance: the Scientific Revolution. Inspirasi mereka tidak hanya mengubah persepsi dan cara pikir orang di sekitarnya saja, tapi juga dunia. Orang yang inspiratif seolah bisa merasuk dan menghipnotis pikiran kita, sehingga kata-katanya teringat terus. Inspirasi yang kita terima, membuat kita ingin mengembangkan diri, melakukan lebih dari keadaan sebelumnya. Di sisi lain, kita bisa juga menyaksikan pemimpin, pejabat atau atasan yang tidak membawa dampak dalam hidup kita. Kata-katanya, pengumumannya, pidatonya seolah lewat begitu saja, tidak menggelitik kita untuk memikirkan apa yang diungkapkan ataupun mengadakan dialog dengan diri sendiri. Mengapa ada orang yang bisa begitu kuat menginspirasi namun sebaliknya ada orang yang seolah hanya punya ‘pepesan kosong’ dalam ekspresinya?

Obsesi yang Penuh Passion

Orang yang mampu menginspirasi orang lain, tentunya mempunyai kekuatan ekstra. Para  ‘speaker’ yang menyebutkan diri mereka ‘motivator’ sekalipun, tidak selamanya mampu mengubah hidup pendengarnya secara signifikan. Seorang ahli mengatakan bahwa orang seperti Martin Luther King yang berhasil mempengaruhi kaum kulit hitam maupun putih mengenai persamaam hak, mempunyai obsesi yang tidak pernah lepas dari dirinya. Obsesi ini sudah melalui penolakan orang, keraguan, bahkan tidak jarang menyebabkan individu dipenjara.  Buah pikiran yang dibawa ke mana-mana dan mengalami cobaan kiri kanan ini akan dengan sendirinya menjadi kuat, keras, besar, bergreget bahkan mulia, karena mewarnai seluruh kehidupan pribadi dan pembicaraan-pembicaraan serta ‘sharing’ kita dalam pergaulan.

Orang yang mampu menginspirasi orang lain, juga memberikan gambaran mengenai masa depan yang lebih baik, positif dan cerah. Oprah Winfrey, selalu obsesif mengenai pengembangan kepercayaan diri setiap individu, walaupun individu yang mengalami trauma seberat apapun. Orang yang inspiratif mengajak masyarakat untuk menyadari kenyataan, membuka mata lebar-lebar, sekaligus memberi alasan-alasan yang bisa diterima agar tetap optimis. Itu sebabnya kita tidak mungkin berhasil menginspirasi orang lain bila apa yang kita katakan tidak tercermin dalam kehidupan pribadi kita. Seorang ahli mengatakan:” if you really want to inspire others to do something then this ‘something’ should be a big part of your life.”

Inspirasi adalah Kualitas Hidup

Dalam kehidupan kerja, bermasyarakat dan berbangsa yang tidak pernah lepas dari berbagai tantangan dan masalah, jelas kita butuh orang yang bisa menginspirasi untuk melakukan perubahan dan mengambil tindakan nyata. Setiap individu sebetulnya bisa menjadi orang yang inspiratif, tidak perlu menunggu punya jabatan, jadi pimpinan ataupun menunggu tua dulu. Anak-anak muda yang baru lulus kuliah dan mengikuti program “Indonesia Mengajar”, terbukti mampu menginspirasi tidak hanya “adik” didik, namun guru serta orang-orang di daerah penempatannya untuk lebih maju. Gerakan mereka pun senantiasa membuat kita terharu dan memaksa kita memikirkan kontribusi yang bisa kita berikan untuk kemajuan bangsa. Ibu saya, seorang ibu rumah tangga biasa, berhasil menempelkan pesan pesan, gaya hidup serta prinsip penting dalam kehidupan putra putrinya, sehingga mampu menyangga kehidupan kami agar ‘stay positive’. Dalam peran kita sebagai orang tua, saudara, karyawan, atasan pernahkah kita berpikir bagaimana kita bisa berguna bagi orang lain dan memberi inspirasi bagi orang lain?

Untuk bisa menginspirasi, hal pertama yang perlu kita pertanyakan pada diri sendiri adalah apakah diri kita terinspirasi oleh pemikiran kita sendiri? Banyak orang lebih sibuk ‘melihat keluar’ sampai tidak pernah memikirkan apakah ia sendiri mempunyai greget terhadap satu prinsip, visi maupun misi tertentu. Kita bisa berkomitmen untuk hidup sehat, menjalankannya, mempengaruhi orang di sekitar, memberi informasi, menolong orang lain melalui apa yang kita yakini, sehingga akhirnya buah pikiran kita itu benar-benar mewarnai diri kita. Hanya dengan sikap hidup dan prinsip yang keras kita bisa menarik kesimpulan dan memperdalam keyakinan kita. Hidup dengan prinsip itu menyebabkan kita memiliki pengalaman seputar prinsip tersebut, sehingga kita bisa berceritera mengenai hal-hal yang menarik dan bisa dipegang oleh orang disekitar kita. Setiap orang perlu berstrategi bagaimana memberi ‘input’ kepada orang di sekitarnya, sambil juga siap menerima masukan, komentar, dan pemikiran mengenai prinsip  yang dikumandangkan. Tidak sulit, bukan?

From EXPERD - Eileen Rachman & Sylvina Savitri – Dimuat di Kompas 15 Oktober 2011

My Plan :)

Huffftt… akhir2 ini otak aq penuh dgn banyak hal berseliweran, stress menuju akut hehe…
Maksud hati memeluk gunung apa daya tangan tak sampai, begitu kira2.  Dari pertengahan tahun ini memang aq udah ga betah di Semarang, udah ngebet pindah ke Jakarta hehe… Setelah galau sendiri akhirnya berani mengutarakan keinginan tersebut ke si bos, dan beliaunya sih tidak keberatan kalo memang ada hal yang lebih baik di Jakarta. Yehaaa berselancarlah aq n sounding nyari info kerjaan di Jakarta. Buanyak lowker yg aq apply tp ga banyak yg berlanjut ke tahap interview :’( Beberapa yg lanjut ke tahap interview jg belum ada yang berhasil :’( baru ngrasain yang namanya susyeh cari kerja secara dulu ga sesusyeh ini pas kerja ditempat sekarang.

Well, setelah lebaran ini aq pikir ada baiknya aq d Semarang dulu, berakhirnya tahun 2011 berakhir pula aq kerja disini. “Trus mo ngapain?” haha…. aq mo jadi entrepreneur. “What’s? PENGUSAHA? Mo usaha apaan?” hehe masih bingung juga sih mo usaha apa, mangkanya kasih waktu hingga akhir tahun buat menentukan dan pastinya ngumpulin duit buat modal usahanya. Ada beberapa jenis udaha yang lagi aq selami nih, berkaitan dengan fashion, aksesoris ato F&B. bingung juga mo buka sendiri ato franchise secara belum ada pengalaman, kalo bidang F&B sih kemungkinan franchise tp kalo fashion n aksesoris mah nyelem sendiri ajah pasti lebih seru :D

Soal ngumpulin duit akhir2 ini juga terasa berat beud, secara pengeluaran yang sll membengkak meski dah dibuat perencanaan keuangannya hiks :’( Ditambah lagi soal duit2 yang pada dipegang orang2 ga tau baliknya kapan n ada jg yg dah pasti ngibrit orangnya *nyesek hiks :’(
Ngencengin ikat pinggang ditengah lingkungan yang kondisinya ga jauh lebih baik  juga susyeeehh. Moga kondisi lingkungan makin baik yah biar bisa nularin hawa baik ke aq :D

Sebenernya sih ada upaya lain buat ngedapetin modal karena dipastikan duit q kagak bakal cukup buat modal meski dah pelantingan ngumpulin duinya. HUTANG, weissst… serem juga sih dengar kata HUTANG, secara aq ga pernah ngutang n ga punya jaminan apa2. Kalo ga bisa balikin HUTANG begiama donk*parno bayanginnya. Tp setelah baca2 advice para perencana keuangan “Hutang boleh asal produktif” heh?

-BERSAMBUNG-

MENTALITAS ENTREPRENEUR

Apa yang pertama kali terlintas di benak Anda saat mendengar istilah “mentalitas entrepenur”? Banyak orang langsung mengartikannya sebagai mentalitas pedagang yang berorientasi meraup sebanyak-banyaknya untung dan tujuannya “UUD” alias “ujung-ujungnya duit”. Dengan pengertian ini, banyak orang yang secara halus ataupun terang-terangan menolak untuk mengembangkan mentalitas entrepeneur. Ada yang merasa tidak berbakat, ada pula yang menilai mentalitas ini tidak sesuai dengan nilai-nilai yang ia pegang karena ia lebih mengunggulkan nilai-nilai lain ketimbang berfokus pada upaya untuk mencari uang saja. Sebagian orang beranggapan bahwa entrepreneur atau wirausaha adalah sebuah profesi atau alternatif profesi, ketika misalnya ia sudah pensiun. Dengan pandangan yang sempit mengenai kewirausahaan, tak heran bila kita melihat banyak orang yang banting setir menjadi wirausahawan malahan tidak berhasil.

Istri teman saya, yang suaminya bekerja sebagai pegawai negeri, mempunyai sebuah kebiasaan positif. Setiap menempati pos baru, ia mengajak suaminya bersilaturahmi ke tetangga baru dan para pejabat di kota itu. Setelah berkeliling selama satu minggu, sang istri biasanya sudah akan mengantongi beberapa murid yang berminat belajar bahasa Inggris dan belajar merangkai bunga di rumahnya. Sang istri yang berprofesi sebagai guru les ini, selain happy, nyatanya juga berpenghasilan lebih dari gaji suami sehingga keluarga hidup nyaman dan tidak berkekurangan. Kita lihat bahwa nafas berwirausaha tidak sebatas ada pada para pedagang atau pengusaha. Seorang ibu rumah tangga yang berprofesi sebagai guru les saja bisa mempunyai semangat berwirausaha dan tidak pernah kehilangan kesempatan. Mentalitas wirausaha ini sebetulnya ditandai dari adanya semangat berprestasi dan kejelian menangkap serta menciptakan peluang untuk menghasilkan sesuatu yang lebih baik. Apakah semangat entrepreneur yang demikian ampuh ini tidak perlu dikembangkan dalam diri para karyawan dan pekerja kantoran?

Dalam keadaan ekonomi di mana kemapanan sudah tidak ada lagi, kita memang selalu akan dituntut untuk melakukan perbaikan. Perbaikan selalu bermuara pada kebutuhan pasar dan juga inovasi produk yang menjawab kebutuhan tersebut. Seorang pemilik perusahaan atau CEO memang dituntut untuk berpikir kreatif, melihat jalan keluar dan menemukan produk-produk baru. Namun, bila perusahaan dipenuhi karyawan yang menjauhi mentalitas entrepreneur, siapa yang akan mengusung misinya dan mengimplementasikan ide-ide si pucuk pimpinan? Apakah perusahaan bisa survive bila dalam kultur perusahaan tertanam faham bahwa yang perlu berpikir secara wirausaha, hanya individu bagian tertentu saja atau bahkan cukup si empunya perusahaan dan CEO-nya? Bukankah para karyawan-lah yang akan menggerakkan roda perubahan bisnis yang disuarakan oleh para pucuk pimpinan?

Ukuran Sukses

Dalam organisasi besar, di mana manajemen kinerja sudah dikembangkan dengan mantap, ukuran sukses kerap dihubungkan dengan pencapaian KPI (key performance indicator). Kita tahu bahwa memastikan pencapaian KPI adalah hal yang sangat penting dan positif, namun kita tentu sadar bahwa perusahaan kita ada di ambang masalah bila banyak karyawan berpuas diri dengan mengatakan: “Pokoknya, KPI kami sudah tercapai.” Kita pasti segera menyadari bahwa bahwa mekanisme fleksibilitas, menyusun prioritas, mendahulukan kepentingan pelanggan, mengendus perubahan pasar dan mengetatkan barisan karena serangan kompetitor tidak bisa dijamin oleh pengukuran-pengukuran ini.

Mengembangkan mentalitas entrepreneur berarti mengajak setiap individu untuk melihat dirinya sebagai profesional sukses, di mana kesuksesan tersebut sambung menyambung dan terus hidup untuk menyambut tantangan baru. Pengusaha kripik home-industry di kota Bandung, yang bisa meraup keuntungan puluhan juta rupiah per hari, mengungkapkan bahwa mereka mengembangkan pemasaran dari para rekan-rekan dan karyawan yang mereka sebut sebagai “jendral”. Para “jendral” dengan mentalitas entrepreneur yang terus berpikir kreatif inilah yang menghidupkan bisnis dan terus memperluas jaringan. Hal ini bisa dilakukan dengan membangkitkan rasa percaya diri dan memberi tanggung jawab kepada individu sehingga setiap orang bisa merasakan seolah dirinya adalah mesin produksi yang selalu memutar roda giginya dan berkata pada dirinya sendiri: “Saya Bisa! Saya Bisa!”

Menciptakan Sukses

Pengertian sukses sebagai profesional sekarang perlu mengacu pada konsep diri yang lebih dalam. Kita tidak bisa lagi mengembangkan konsep diri sebagai ‘ambtenar’ yang menunggu instruksi dari ‘pusat’ atau ‘atas’. Setiap individu, apapun dan di manapun posisinya, harus sudah menjadi pemain dalam bisnis yang dijalankan perusahaan. Ini berarti kita sendiri yang mesti punya visi mengenai seperti apa kita nantinya di masa datang. Dengan sasaran pribadi yang jelas, kita otomatis akan lebih siap untuk menguatkan intensitas kerja dan lebih tahan terhadap kesulitan yang menghadang. Paradigma bahwa perusahaan yang bertanggung jawab untuk menyediakan sukses karir, kenaikan pangkat, penambahan fasilitas, sudah usang. Sukses karir hanya bisa dijamin oleh diri sendiri. Semua orang tahu bahwa kesempatan itu sebenarnya ada, bahkan gratis, tetapi harus ditemukan. Inilah salah satu inti dari mentalitas entrepreneur.

Kita juga perlu sadar bahwa kesempatan hanya bisa diraih oleh individu yang sudah punya ancang-ancang. Daud tidak mungkin bisa mengalahkan Goliat, bila ia tidak beribu kali berlatih bermain katapel. Itu sebabnya kerja keras, berlari kencang, bekerja dengan ‘passion’ sudah harus ‘standby’ ketika kesempatan datang. Tidak ada yang mengatakan bahwa mengembangkan mentalitas entrepreneur ini hal yang mudah. Namun, sikap mental yang sekedar menunggu sudah jelas tidak mendapatkan tempat lagi di kancah persaingan profesi sekarang ini.

From EXPERD – Eileen Rachman & Sylvina Savitri – Dimuat di Kompas, 10 September 2011

MAKNA HIDUP

Apa jawaban yang Anda berikan pada anak Anda bila mereka bertanya, “Mengapa ayah atau ibu harus bekerja?” Lazim terjadi, kita sebagai orang tua berkata: “Mencari uang!”. Jawaban ini tentu saja memang sangat logis dan masuk akal. Di sisi lain, tidakkah kita kemudian jadi tergelitik dengan jawaban tersebut? Betulkah prioritas dan alasan kita bekerja membanting tulang dan memeras otak semata mencari uang? Bukankah kegiatan mencari uang bisa terdengar sumbang bila asalnya dari jumlah jutaan, milyaran bahkan triliunan rupiah yang dikorupsi atau direkayasa dengan cara “insider trading” dari oknum tertentu? Bila uang diperoleh tetapi kualitas hidup dan karakter pribadi tidak menjadi lebih baik, serta ada pihak-pihak yang dirugikan, masihkah bermakna kerja yang kita lakukan?

Banyak orang tidak bisa membayangkan untuk apa uang milyaran atau triliunan dimiliki dan bagaimana jumlah sebanyak itu dibelanjakan. Meski tidak selamanya makna mencari uang atau mengejar keuntungan sama dari individu yang satu ke yang lain, kita juga sering menyaksikan  betapa orang di jaman sekarang tergila-gila pada uang. Orang yang ‘berada’, bermobil keren, berdandan dengan barang-barang ‘branded’ diperlakukan dengan lebih di respek dan diberi ruang yang lebih terhormat. Orang-orang merasa kekurangan uang terus dan mengeluarkan pernyataan bahwa kebutuhan tidak ada habisnya. Seolah-olah kita mencari ‘excuse’ untuk  bersikap materialis. Kadang-kadang kita bingung sendiri mengapa kita terjebak dalam kultur ‘collective greed’ begini. Seorang ahli filsafat menggambarkan situasi sekarang sebagai berikut: ‘How much is enough, and why are people willing to risk so much to get more? If money is so alluring, how is it that so many people of great wealth also seem so unhappy?

Di jaman di mana anak anak muda berusia antara 20-30 tahun  dengan mudah menjadi kaya raya, tantangan untuk mencari makna uang atau kepemilikan pun seakan semakin tidak diprioritaskan. Dengan tawaran-tawaran pinjaman tanpa agunan, janji-janji keuntungan reksadana, pinjaman KPR yang semakin dipermudah, gadget teknologi informasi yang selalu baru, orang jadi lupa untuk mempertanyakan keberadaannya di dunia ini, apa misi dan tujuan hidupnya, apa makna hidup dan makna bekerja. Padahal, seperti kita saksikan sendiri, uang bisa menjadi sumber malapetaka, ketimbang sumber daya untuk mengembangkan hubungan interpersonal dan memperkaya makna hidup. Kalau pada saat berkekurangan kita mencemaskan “besok mau makan apa?”, maka pada waktu berkecukupan kecemasannya berbentuk “bagaimana bila uang saya hilang?”. Seorang profesor filsafat, Jacob Needleman mngatakan: “Being rich does not make you smart — especially about things other than money.” Bila kita tidak pernah memahami hubungan kita dengan uang dan harta, maka kita tidak pernah mengenal diri sendiri.

Sukses = Banyak Duit?

Istilah ‘jadi orang’ yang sering digunakan oleh orang-orang tua kita dulu sebetulnya mengandung makna yang dalam. Di jaman dahulu, jelas ‘jadi orang’ tidak selamanya ‘jadi orang kaya’. Jadi guru yang hidup sederhana pun sudah ‘jadi orang’. Sebetulnya, konsep sukses dari dulu dan bahkan sampai sekarang pun tidak bisa kita samakan dengan banyak uang saja. Orang bisa dikatakan sukses bila ia jelas-jelas menyadari dan menggunakan semua fungsi, semua bagian dan seluruh kapasitas dalam dirinya untuk kebaikan orang lain dan masyarakat, bukan semata untuk kepentingan dirinya pribadi. Dalam mengembangkan diri menjadi karakter yang utuh barulah seseorang bisa merasakan kenikmatan, perjuangan dan tantangan dalam bekerja. Teman saya, seorang pengusaha dan pekerja keras yang memiliki perusahaan yang beromzet trilyunan pernah mengatakan:”Saya tidak bisa membayangkan uang bermilyar-milyar dalam bentuk uang kertas. Hal yang saya kejar dan upayakan hanya prestasi.”

Seseorang yang mendapatkan promosi atau kenaikan gaji dengan berjuang keras dan berkompetisi dengan sesama rekan, memiliki pengalaman mengerahkan sumber daya, melatih nyali, bahkan menguji hati nurani. Kenikmatan hasil jerih payahnya ini tentu tidak semata karena akhirnya ia meraih jabatan atau uang, tetapi juga karena terjadi pematangan kepribadian. Lain halnya bila seseorang mendapatkan jabatan ataupun uang dengan cara gampang, bahkan tanpa usaha. Ia melewatkan kesempatan untuk berdialog dengan dirinya. Spiritnya tidak berkembang. Demam masyarakat dalam dunia yang serba instan inilah yang mempengaruhi mental dan spirit kita semua. Kita sepertinya perlu mengembangkan “antibodi” agar tidak dijangkiti “demam” yang mematikan ini.

Kualitas Kerja sebagai Daya Tarik

Kita memang tidak bisa menghindari kebutuhan kita akan uang. Terlepas dari kebutuhan orang untuk memenuhi rasa amannya melalui pemilikan rumah, kendaraan yang memadai untuk mendukung aktivitas sehari harinya, kita juga perlu merancang kualitas perbaikan kualitas hidup sambil jalan. Bila kita selama ini ingin lebih dan lebih, kita perlu memberi penekanan pada kualitasnya. Bukan sekedar berjuang demi bonus, tetapi bekerja demi merasakan kebahagiaan kerja bersama. Bukan sekedar berkompetisi dengan melihat hasil akhir tetapi justru memahami mengapa orang lain lebih bijak, lebih berkualitas kerja dan lebih efisien. Dalam iming-iming mengajak calon pekerja untuk bergabung, bukan gaji besar yang ditonjolkan tetapi bagaimana suasana kerja, hubungan antar karyawan dan apresiasi yang dipentingkan. Kita rasanya tidak perlu merasa kalah bersaing secara finansial, kalau saja kita tahu betul bagaimana mengupayakan agar para pekerja diarahkan untuk melakukan kualitas kerja yang lebih baik. Dalam hal ini pasti upah akan menjadi konsekuensi positifnya.”In tough times, meaningful work seems more than ever to demand attention

EXPERD Consultant- Eileen Rachman & Sylvina Savitri

Dimuat di KOMPAS, 28 Mei 2011

Post Navigation

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.