"Cici" Sri Sumarni

Live life for a life. Love for love itself

Wirausaha atau Pekerja?

Euforia kewirausahaan ato istilah menterengnya entrepreneurship sudah sangat besar. Dimana-mana orang membicarakan soal ini, mulai dari keinginan berwirausaha, up grade level bisnis, forum dan komunitas bisnis ada dimana-mana. Status entrepreneur nampaknya memberikan prestis tersendiri di masyarakat. Mereka melihat pelaku wirausaha memiliki kebebasan dalam hal waktu dan mengambil keputusan. Kesuksesan materiil juga sering terpampang dalam lama-laman sosial media mereka. Padahal prosesnya bisa jadi sudah berdarah-darah, ada yang mulus-mulus saja sih namun hanya sebagian kecil.

Well, saya enggak mau ngomongin soal proses berdarah-darah menjadi pelaku usaha karena saya belum punya mengalaman berdarah-darah itu. Memulai usaha sendiri juga belum lama, meski nyesek beberapa kali sudah dirasa.

Saya kok agak gerah dengan euforia entrepreneurship yang berlebihan. Kayaknya maunya semua orang jadi pengusaha. Semua orang memiliki kemandirian finansial. Yaelaaaaah kalo semua jadi pengusaha, siapa yang jadi pekerjanya? Emang pekerja tidak bisa mencapai kebebasan finansial?

Kalau Anda punya passion jadi pengusaha (berbisnis, bukan sekedar berdagang), Anda merasa tertantang pada setiap ide bisnis yang muncul pada pikiran Anda, TERUSKAN PERJUANGAN ANDA! Saya suka sekali dengan mereka yang memiliki mental baja membangun usaha sendiri. Saya juga akan berguru kepada Anda, dari setipa langkah Anda membangun bisnis Anda dan cerita jatuh bangunnya.

Saya pernah bekerja, menjadi pekerja level biasa saja (bukan manager apalagi top manager). Saya menikmati masa-masa itu. Saya berusaha bekerja dan berkarya sebaik mungkin meski hasilnya belum tentu memuaskan semua pihak. Saya selalu kagum dengan mereka yang bekerja sepenuh hati, pada mereka yang berdedikasi pada pekerjaannya. Seminim apapun job desk Anda, itu sudah menyumbang roda kehidupan di bumi ini.

Kalau memang pekerjaan Anda tidak membebani kehidupa Anda, kalau memang pekerjaan Anda mencukupi kebutuhan hidup Anda dan yang paling penting kalau memang Anda menyukai pekerjaan Anda, jangan pernah merasa malu apalagi pesimis dengan masa depan Anda. Lakukan setiap detail pekerjaan Anda dengan sepenuh hati, penuh semangat.

Apapun yang Anda jalani, please don’t judge each other! Jangan saling merasa lebih dari yang lain! Kita tidak perlu bercita-cita menjadi kaya, berusaha dan berdo’a lah untuk menjadi CUKUP.

=====

Penulis sedang mencari rejeki melalui http://souvenirpernikahangaleriamanah.com/

Advertisements

5 Hal ini Menentukan Budget Pesta Pernikahan Anda

Siapa diantara Anda yang sedang menyiapkan pesta pernikahan? Bagaimana rasanya? Apakah banyak kendala? Well, pasti ada beberapa yang sudah lega karena semua sudah Anda pasrahkan ke WO (wedding organizer) tapi pasti juga ada beberapa yang masih bingung dan pusing. Budget untuk memenuhi pesta pernikahan yang diinginkan juga tidak sedikit lho. Yuk kita lihat dulu beberapa kebutuhan untuk pesta penikahan terutama kalau mau menyiapkan semunya sendiri tanpa bantuan WO.

  1. Undangan

Jumlah undangan sangat mempengaruhi budget pesta penikahan Anda karena ini terkait dengan katering, ukuran gedung yang akan Anda sewa, kartu undangan yang akan Anda cetak dan juga souvenir untuk para tamu undangan. Sesuaikan jumlah undangan Anda dengan budget pesta Anda. Buat daftar orang-orang yang akan Anda undang, dari yang memiliki hubungan paling dekat (keluarga besar, soudara dan sahabat) hingga yang paling jauh. Diskusikan dengan keluarga Anda khususnya orang tua Anda siapa-siapa yang akan diundang agar tidak melebihi target yang akan diundang.

Ada banyak jenis undangan pernikahan dari yang sangat mewah dan mahal hingga undangan yang sangat sederhana dan murah. Jika Anda sudah memliki gambaran undangan seperti apa, Anda tinggal tanyakan pada penyedia jasa etak undangan kisaran harganya (tanya aja ga disuruh bayar kok). Namun jika Anda belum ada gambaran Anda bisa saja melihat-lihat dulu dan tanyakan harga masing-masing jenis undangan yang Anda sukai, bisa Anda foto dulu untuk didiskusikan dengan pasangan atau keluarga Anda sebelum memutuskannya.

Anda juga dapat memilih undangan multi fungsi sebagai souvenir sehingga Anda tidak perlu lagi menyiapkan souvenir.

  1. Make-up dan Busana

Make-up dan busana apa yang ingin Anda kenakan, tradisional ataukah modern. Fee masing-masing perias tentu berbeda apalagi kalau menginginkan paket komplit hingga ke semua keluarga besar. Kalau budget Anda mepet ada baiknya untuk yang utama saja yaitu kedua mempelai, orang tua kedua mempelai, dan beberapa penerima tamu.

  1. Gedung dan Dekorasi

Mau mengadakan pesta pernikahan di gedung atau di rumah? Jika tamu undangan tidak banyak dan rumah Anda memiliki halaman yang cukup mengadakan pesta penikahan di rumah tentu sangat menghemat budget Anda. Mengadakan pesta pernikahan di rumah juga memberikan kesan intim/ dekat dengan para tamu undangan.

Dekorasi sangat tergantung dengan konsep pesta pernikahan Anda apakah tradisional, modern, atau bahkan garden wedding. Beberapa jasa dekorasi yang satu paket dengan jasa rias, jadi Anda bisa meminta diskon. Mintalah dekorasi yang minimalis tapi tetap memberikan kesan mewah dan romantis. Pilihlah beberapa jasa dekorasi, bandingkan dan lagi-lagi tanyalah sampai sejelas-jelasnya.

  1. Katering

Seperti yang sudah disampaikan diawal budget yang perlu Anda siapkan untuk katering sangat tergantung dari jumlah tamu yang Anda undang. Dan umumnya tamu undangan Anda akan datang bersama pasangan masing-masing.

Jika Anda menyiapkan konsumsi terpisah-pisah, tidak dari satu jasa katering. Pastikan Anda memesan menu yang bervariasi dan meletakannya pada meja-meja yang disebar pada beberapa titik agar tidak terjadi antrian panjang yang tidak diinginkan. Beberapa menu makanan juga akan mengesankan makanan cukup/ tidak akan kurang untuk semua tamu undangan Anda. Jika Anda menggunakan jasa katering, pilihlah menu paket dengan beberapa menu selain menu utama. Lagi-lagi mintalah diskon, negosisasi masih mungkin Anda lakukan meski harga sudah tertera dalam menu paket katering.

  1. Dokumentasi

Mengabadikan hari bahagia Anda tentu satu hal wajib yang harus Anda lakukan. Dokumentasi berupa foto dan video. Anda perlu menyewa jasa fotografer dan videografer profesional  untuk mengabadikan pesta pernikahan Anda. Tentu tidak harus penyedia jasa yang paling terkenal. Pilihkan paket jasa foto dan video karena umumnya paket ini lebih murah dari pada terpisah-pisah antara penyedia jasa foto dan video.

Nah, dicatatkan 5 hal penting dalam menyusun budget pernikahan Anda. Sekarang Anda harus merincinya lagi pada masing-masing hal penting tersebut. Perbanyak diskusi dengan orang lain (oarang tua, saudara dan teman) agar Anda tidak stress memikirkan semua hal tersebut sendiri. Semoga pesta pernikahan Anda berkesan dan penuh keceriaan.

– Sri Sumarni – 23032015

Untuk memudahka Anda dalam berbelanja souvenir telah hadir http://souvenirpernikahangaleriamanah.com

3 Langkah Menghabiskan Gaji Tanpa Beban dan Tetap Tentram

Wooooow sudah tanggal 27 ternyata, sudah pada senyum-senyum bahagia kan? Rekening sudah terisi kembali. Apakah diantara Anda ada yang masih bingung membagi gaji untuk kebutuhan bulanan Anda. Tidak usah bingung, habiskan saja gaji mu tanpa menyisakannya di akhir bulan.

“Lho kok dihabiskan saja kan harus dihemat” “kan harus bayar cicilan rumah, mobil, motor”, mungkin banyak yang akan berkata begitu. Simak tipsnya, 3 langkah meghabiskan gaji tanpa beban dan tetap tentram:

  1. Pertama dan utama BAYAR CICILAN KREDIT! Karena kalau tidak dibayar resiko lebih besar menanti Anda. Bunga semakin berkembang, masuk dalam catatan hitam bank yang bisa mengakibatkan Anda kesulitan mengajukan pinjaman lagi. Maksimal cicilan hutang dalam anggaran bulanan adalah 30% dari total pendapatan. Hayooo cek lagi rasio hutang kamu, masih sehat kah?
  2. Yang kedua ambil 20% gaji/ pendapatan Anda untuk investasi dan tabungan. Pisahkan rekening tabungan dengan rekening gaji atau rekening yang Anda gunakan sehari-hari. Angka 20% adalah angka yang standar, jadi jika Anda ingin menabung dan berinvestasi lebih besar itu lebih baik.
  3. Yang ketiga dan terakhir, HABISKAN SISANYA! Habiskan sisa gaji Anda untuk kebutuhan 1 bulan, JANGAN SISAKAN! Kebutuhan bulanan ini meliputi makanan Anda dan keluarga, transportasi, tagihan listrik, komunikasi, makan siang di kantor, pakaian juga kebutuhan hiburan/rekreasi rutin, pakaian dan lain-lain.

Nah, sekarang sudah tahu kan bagaimana cara menghabiskan gaji Anda tanpa beban dan hati tetap tentram?  Kalau sudah tahu, ayo praktekan sekarang juga!

-Sri Sumarni-

Di Sini Aku Ada

Haiiiiii….. lama sekali tidak berbagi cerita dan berita. November 2013, cerita terakhir ku di blog ini. Ada rasa sedih dan hampa setiap menatap laman blog ini. Begitu banyak hal terjadi di alam raya dan aku tidak mampu mengungkapkannya dalam barisan kata.

Jakarta, sudah ku tinggalkan berbulan lalu, tepatnya 8 April 2014. 4 bulan dilewati dengan penuh suka cita dan bahagia, di sini di sebuah kota kecil bernama Purwokerto. Mungkin tidak semua orang Indonesia tahu dimana letak kota kecil ini. Tak apa lah seperti halnya aku yang tak tahu adanya kota-kota lain di luar sana, di sisi Pulau Jawa yang lain atau di sisi Indonesia yang lain.

Belajar menjadi orang tua, menjaga, menemani, bermain dan bercanda dengan keponakan-keponakan, sungguh pengalaman luar biasa. Belajar bersama bagaimana mandi sendiri, menyikat gigi dengan benar, mengenali huruf, kata dan makna, berpakaian dengan sopan meski dia masih kanak-kanak. Dan sekarang aku tahu bagaimana cara membuatnya tidak merajuk dan merengek, yaitu melepaskannya, hanya manjadi mata dalam  hari-harinya.

Menikmati lalu-lalang kendaraan bermotor, becak, sepeda bahkan pejalan kaki di malam hari di Jl. Jend Sutoyo. Iya becak, sepeda dan pejalan kaki, maklumlah angkutan kota di sini tidak beroperasi hingga malam hari. Berasa aneh awalnya, terbiasa dengan kehidupan Jakarta yang tak pernah mati, di sini berasa sepi. Tapi tak apalah, setidaknya transisinya tidak terlalu ekstrim.

Berkenalan dengan orang-orang baru, tidak semua menjadi kawan memang  namun beberapa juga menjadi keluarga. Tetangga sekitar tempat ku tinggal, pelanggan warung  lesehan kakak ku, juga teman-teman seperjuangan mengusung salah satu kandidat Presiden yang in sha alloh akan menjadi Presiden RI ke 7, Joko Widodo.

Tidak terasa 4 bulan terlewati begitu cepat, tertegun saat membuka email ternyata 1 bulan full aku tidak membuka email. Tercengang saat membuka buku catatan, realisasi rencana-rencana yang sudah tersusun rapih di Jakarta mungkin hanya 1%. Miris banget. Tersadar, aku tidak boleh diam, aku harus bertindak. Merevisi rencana-rencana dan strategi ku, kembali mencorat-coret buku catatan ku, memutuskan untuk tinggal di tempat yang lebih kecil dari Purwokerto, Sumpiuh. Kembali ke rumah dimana hanya ada 2 orang tua yang belum lagi manja meski tetap harus dijaga.

Di sini aku berada, dengan segudang mimpi, khayalan, angan dan pengaharapan ku akan dunia.

Di sini aku berada dan mengada.

Curhat – Guwe Ngantuk!

Sudah semacam jam biologis tiap malam tidur lewat tengah malam, jam 12, jam 1 bahkan saat weekend bisa sampai subuh baru tidur. Ada semacam kegamangan kalau mau tidur sore, ada rasa “masa sih jam segini udah mau tidur’. Apalagi hidup di Jakarta dimana rutinitas siang (baca: kerja) sering berakhir antara pukul 7 samapi 9 malam. Baru saja masuk rumah masa mau langsung tidur. Santai sebelum tidur biasanya diisi dengan nonton film, baca buku tapi yang paling sering baca twitter. Hanya untuk scrolling twitter hari itu aja ga cukup 1 jam hehe 😀 Dan jadilah rasa kantuk semakin jauh dari pelupuk mata.

Yaps, hal buruknya adalah jadi susah bangun pagi. Jam tidur juga mempengaruhi jam bangun donk, apalagi dengan jam kerja yang dimulai pukul 9.30 siang (guwe anggep itu udah kesiangan ya buat kerja) dan jarak tempuh rumah kos ke kantor cuma 5 menit 😛 Udah tau kan maksudnya?

Merasa hidup tidak sehat, iya. Tapi sehari dua hari bisa tidur agak cepet dan bangun agak pagi hari kemudian rutinitas sudah kembali lagi. Apa ini? Kadang berfikir butuh tempat tinggal yang agak jauh dikit biar agak semangat dan tidak menyepelekan waktu tapi yang deket ada suka telat apalagi yang jauh hehe 😛

Sekarang guwe lagi ngantuk tuk tuk tuk, padahal masih jam kerja dan guwe milih nulis ini bukannya bikin kopi atau take a nap. 

19112013-5pm

MAKE IT HAPPEN!

“Meeting melulu, kapan kerjanya…?”, keluhan semacam ini cukup sering kita dengar, bahkan mungkin kita sendiri pun pernah melontarkannya, bukan? Tidak hanya karyawan yang bekerja di organisasi besar, individu di organisasi kecil pun kerap mengeluhkan hal yang sama. Meeting sebagai sarana evaluasi, koordinasi, konsolidasi, konsultasi, tentu saja hal yang penting. Namun, betapa sering sebuah meeting yang menghasilkan notulen, lengkap dengan deadline dan “Person In charge”-nya, pun meleset kesuksesan pelaksanaannya. Banyak hal yang membelokkan perhatian, baik karena data tidak lengkap, info tidak update, orang yang tidak hadir, atasan masih harus memutuskan, sehingga ujung-ujungnya, apa yang disepakati dalam meeting, ‘tidak terjadi’. Pekerjaan pun tidak maju-maju. Tidakkah ini membuat kita frustrasi?

Bila kemajuan tidak terjadi, kita biasanya sadar bahwa ada kesenjangan antara keputusan untuk melakukan sesuatu, dengan pelaksanaanya. Namun, tetap saja banyak orang yang seolah lupa bahwa pelaksanaan yang sukses akan membuahkan kebahagiaan dan kepuasan. Bila dalam meeting ditanyakan siapa yang akan mengambil tindakan, body language celingak-celinguk kiri-kanan sering terjadi. Belum lagi, banyak pula individu yang seolah ‘tidak melihat’ akuntabilitasnya, atau bersikap ‘cuci tangan’ terhadap penyelesaian masalahnya. Fenomena ini tidak sekedar terjadi di lembaga pemerintahan, perusahaan keluarga, BUMN, atau di Indonesia saja. Bahkan, organisasi dengan pimpinan berpendidikan tinggi sekalipun, ternyata tidak menjamin keberhasilan pelaksanaan pekerjaan dengan sukses.

Mike Roach, pakar Corporate Governance, dengan jelas mengatakan: “Strategy without execution is hallucination!” Namun, kita ketahui pengajaran yang dilakukan di sekolah-sekolah tinggi manajemen, paling-paling hanya 5% yang berfokus pada bagaimana “make things happen”. Porsi pengajaran terbesar adalah pencanangan strategi yang canggih-canggih. Padahal, harus kita sadari bahwa idealnya waktu implementasi adalah 95% dari waktu memikirkan strategi. Lemahnya pelaksanaan kemudian memunculkan berbagai inisiatif, misalnya menciptakan ‘speedometer’ tugas, agar pencapaian dan penyelesaian bisa di monitor. Terjaminkah pekerjaan selesai? Ternyata tidak juga, karena kita tetap perlu memperhitungkan unsur manusia, ‘engagement’ di dalam dan antar tim yang juga sangat penting. McChesney, Covey dan Huling mengingatkan : “The highest level of performance always comes from people who are emotionally engaged”. “unless we consistently hold each other accountable, the goal naturally disintegrates in the whirlwind”. Kita bisa melihat, betapa implementasi tugas, yang mestinya dikerjakan secara otomatis, kini menjadi disiplin ilmu tersendiri.

5W, 1H
Panjangnya birokrasi jelas menjadi tantangan dalam eksekusi. Suatu waktu di sebuah bank besar, CEO-nya menyatakan: “Kita tingkatkan customer retention dari 70% menjadi 80%”. Satu kalimat ini saja sudah langsung melibatkan seribu satu tindakan dan pertanyaan. Untuk menjawab: “Siapa sebenarnya fokus customer kita?”, sudah mengundang beda pendapat yang kemudian perlu di bahas dalam suatu lokakarya. Selanjutnya, timbul lagi pertanyaan: Siapa yang selama ini mempunyai data paling akurat? Siapa yang akan memelototi faktanya secara ‘real-time”? Apa ‘remedial action’ yang harus dilakukan. Siapa yang akan mengimplementasi? Siapa yang paling melibatkan emosinya pada aksi ini? Apakah diperlukan tim baru atau tetap tim lama? Proses delegasi, menjadi tantangan selanjutnya. CEO mendelegasikan ke VP, yang kemudian mendelegasikannya ke manager. Para manager ini tentu meneruskan ke frontliner ke garda depan, namun pada tahap ini seringkali mereka yang sudah penuh menjalankan aktivitas sehari-hari, tidak siap dengan data paling update, bahkan sudah kehilangan visi. Ini baru masalah pendelegasian, padahal kita juga perlu mempertimbangkan hubungan baik antar tim, bahkan mentalitasi Silo, di mana masing-masing bagian biasanya berusaha mencapai sasaran kerja di bagiannya dulu.

Di berbagai perusahaan, tidak jarang program-program baru diluncurkan, mulai dari CSR, restrukturisasi, pembukaan cabang, pengembangan produk, pemotongan cost, dan perubahan-perubahan kecil lainnya. Namun, tak jarang kita melihat pelaksananya “dia-dia lagi”. Situasi seperti ini pun berulang kali kita lihat di pemerintahan, di mana proyek A yang pelaksanaanya belum beres dan belum bisa dinikmati, sudah di timpa oleh rencana proyek lain. Padahal para filsuf sudah mengingatkan: “The more you fill your plate, the less you will actually accomplish”. Bila kita fokus pada eksekusi, yang perlu kita perhatikan sesungguhnya adalah apakah kita “melihat’ dengan jelas kaitan target yang kita canangkan dengan implementasinya. Kita tentu akan sulit bergenrak bila tidak bisa mendefinisikan dan menerjemahkan:“What, when , Where, Who, Why, How”-nya dari suatu gerakan? Pertanyaan yang juga perlu kita jawab adalah: sudahkah kita melihat kaitan antara fakta satu dengan yang lain? Apakah fakta bisa kita temukan dari data saja? Bukankah di organisasi banyak ‘pengecualian’, hal yang tidak terdokumentasi, ‘workarounds” rutin yang tidak tertulis? Hal-hal yang tidak jelas inilah yang sering menjadi penghambat, atau alasan mengapa suatu proyek “tidak jalan”.

Implementasi: hal rutin bukan ad hoc
Kita semua tentu sadar betapa “blue print’ perubahan, atau strategi memang sangat penting. Namun, rencana ini bisa tinggal rencana, kalau tidak ada kejelasan target, terjemahan target tersebut kedalam ‘action”, rutinitas monitoring, kekuatan penggalangan spirit interpersonal, dan penekanan akuntabilitas seseorang. Hal ini tentu tidak bisa dibebankan pada manajer lini sebagai ujung tombak, namun harus jelas ada pada pemikiran pimpinan puncak perusahaan. Perusahaan-perusahaan yang sukses, dengan bantuan multi media bisa menyediakan sarana FAQ (Frequent asked Questions), untuk menyampaikan jawaban dari CEO-nya. Hal sederhana ini, menciptakan sambung pemahaman dan rasa, antara karyawan yang paling bawah sekalipun, dengan perancang strateginya. “Working to bridge the ‘execution gap’ is no longer optional. It has become a competitive necessity.”. Itu sebabnya, kita masing masing perlu mengingatkan diri untuk bukan saja merutinkan ‘meeting’ tetapi justru merutinkan monitoring tindakan kita: “Make execution a habit; it’s the way things are done around here”.

From EXPERD – Eileen Rachman & Sylvina Savitri – Dimuat di Kompas, 30 Maret 2013

Finally, Car Free Day Jakarta!

Yeeeaaah, 1 tahun 4 bulan di Jakarta baru bisa menikmati Car Free Day hihihi……

Thank u for Mba Oemi and Zaid 😀

Perencanaan Keuangan

Pada Sabtu lalu (23-2-2013) saya mengikuti workshop tentang reksadana dengan tajuk “Go to Smart Investing” yang diselenggarakan oleh Danareksa Investment Management dan FE UI. Tujuan kegiatan ini adalah untuk memperkenalkan dunia pasar modal khususnya reksadana. Harapannya semakin banyak masyarakat Indonesia yang mau melakukan investasi di pasar modal.

Workshop dibuka dengan materi perencanaan keuangan. Kenapa diawali dengan perencanaan keuangan? Karena kita semua pasti punya rencana dalam hidup, misal memiliki rumah, menikah dengan pesta mewah, melanjutkan sekolah dengan biaya sendiri, modal usaha, memiliki anak dan menyiapkan biaya pendidikannya, atau pensiun dengan kecukupan uang tanpa merepotkan anak cucu. Semua itu tidak datang dengan sendirinya, dan karenanya dibutuhkan perencanaan untuk mewujudkannya, butuh dana berapa banyak, mau dicapai berapa tahun lagi, berapa uang yang akan diinvestasikan dan akan diinvestasikan di instrumen apa.

Sebelum melakukan investasi, umumnya investor harus mengetahui karakter dan profil risikonya, seberapa jauh dia mentoleransi adanya penurunan nilai investasi atau kerugian agar investor nyaman dalam berinvestasi. Kemudian mulai investasi sesuai dengan profil risikonya.  Pasar saham umumnya untuk investor agresif dan toleran terhadap penurunan nilai investasi dan umumnya jangka waktu investasi panjang di atas 5 tahun (meski ada juga yang mengatakan 3-5 tahun), obligasi untuk investor yang moderat dan mentoleransi hanya sedikit kerugian dengan jangka waktu investasi menengah antara 3-5 tahun (ada juga yang mengatakan 1-3 tahun), dan untuk yang tipe konservatif umumnya disarankan untuk menabung di deposito dengan jangka waktu pendek kurang dari 1 tahun. Harus selalu diingat bahwa “hight returnt = hight risk, low risk = low return”.

So, apakah Anda sudah memiliki rencana-rencana dalam hidup Anda? Butuh uang berapa banyak dan mau dicapai kapan? Mulailah investasi sedini mungkin, sisakan 10-30% penghasilan Anda untuk investasi. Jangan khawatir, sudah banyak instrumen investasi yang memungkinkan Anda untuk investasi hanya dengan 100 ribu rupiah per bulan. Jangan lupa pelajari dulu instrumen investasi yang akan Anda pilih agar Anda mengerti risikonya.

Invest your time before invest your money and happy investing!

Tanya Hatimu !

Cinta itu jika kamu merasa jantung berdebar, mata berbinar dan hati berjingkrak-jingkrak saat berjumpa dengannya. Jika tidak, coba tanya hati mu!

 

MEMELIHARA SUKSES

Saat seorang karyawan bergabung di perusahaan, kita beranggapan mereka sudah pasti mau bekerjasama, mau berkontribusi, mau menunjukkan loyalitas, apapun alasannya. Meski kita juga sadar bahwa ‘employment’ mereka bersifat sementara, namun ketika ada karyawan mengundurkan diri, apalagi karyawan andalan, kita tetap akan merasa ‘shock’, tidak siap, dan kemudian bereaksi macam-macam. Kadang marah, merasa bahwa karyawan tidak tahu diri. Tak jarang kita juga bertanya-tanya, “Mengapa sudah disediakan yang “enak-enak” tapi tetap tidak kerasan? Apa sih yang salah dengan diri kita?” Situasi karyawan ‘keluar-masuk’ sudah pasti memusingkan. Perpisahan pasti tidak pernah enak, bagi kedua pihak, apalagi bila dibumbui sakit hati. Sebuah riset menunjukkan kerugian finansial sebagai akibat perginya karyawan potensial besarnya mencapai 3 sampai 10 kali biaya upah tahunannya. Belum lagi bila kita menghitung kerugian moral, misalnya ketidakpuasan pelanggan karena orang yang berganti-ganti, juga turunnya spirit tim.

Masalah ‘turnover’ karyawan ini jelas harus dicari jalan keluarnya. Bukan dari sisi manajemennya saja, tetapi juga karyawannya. Siapa sih yang ingin menjadi kutu loncat? Dan, manajemen mana yang tidak menginginkan hubungan langgeng dengan karyawan, apalagi karyawan dengan kontribusi yang baik? Para pemikir manajemen baru-baru ini menganjurkan kita untuk tidak hanya memikirkan hubungan industrial saja, tetapi lebih memperhatikan bagaimana karyawan memelihara “rasa suksesnya”. Pemikiran ini sebetulnya memudahkan kita untuk memikirkan kelanggengan hubungan industrial ini karena justru bisa diupayakan secara aktif oleh kedua belah pihak, di luar cara-cara tradisional untuk mengupayakan “employee satisfaction”.

Mengobati Rasa Frustrasi
Seorang karyawan cemerlang yang baru saja mendapatkan beasiswa dan menyelesaikan studi S2-nya, merasa ‘happy’ ketika ia dijadikan narasumber dalam komite perubahan bisnis proses dan penggantian sistem perusahaan. Rasa suksesnya ini membuat ia bangga, seolah bisa menepuk dada bila ia pulang ke keluarganya, dan bisa mengatakan “Ayah bekerja keras karena sangat dibutuhkan di perusahaan”. Sebaliknya, kita tentu pernah mendengar ada karyawan merasa frustrasi hanya karena rapat-rapat dalam tim yang berkepanjangan ataupun pengambilan keputusan yang bolak-balik. Meski terlihat sepele, hal ini bisa membuat karyawan merasa tidak merasa ada kemajuan dalam pekerjaannya. Bawahan juga bisa merasa tidak sukses karena sikap atasan. Atasan yang tidak berhasil memberi kejelasan akan harapan manajemen, mengubah-ubah sasaran pekerjaan, tidak menjelaskan kemungkinan perbaikan kesejahteraan, tidak memberi umpan balik yang ‘workable’, ataupun tidak mampu memimpin rapat yang efektif dan inspiratif, tak jarang juga membuat anak buah lelah dan merasa bahwa pekerjaan menjadi rutin dan ‘biasa-biasa’ saja. Sepanjang ide kita diterima, apalagi ‘dipakai’ sebgai inisiatif perusahaan, individu pasti akan bisa merasakan kesuksesan. Ini jelas berarti bahwa sukses tidak selamanya berbentuk didapatnya fasilitas-fasilitas yang mentereng dari perusahaan.

Hal lain yang bisa membuat karyawan frustrasi adalah tangga karir yang vertikal dan berbentuk piramid, sehingga mendaki karir terlihat sebagai tantangan yang ‘too complicated’. Padahal, karyawan perlu melihat kesuksesan, kecil maupun besar, yang ‘bisa’ dicapai, baik itu secara lateral, maupun secara emosional. Dari segi ‘benefit’, kita tidak lagi bisa menyamakan nilai-nilai karyawan dua-tiga dekade lalu dengan karyawan masa sekarang. Kalau dulu yang dicari karyawan adalah lebih pada ‘rasa aman’, seperti jaminan hari tua dan kesehatan, survei mengatakan bahwa karyawan sekarang lebih menginginkan jaminan yang bisa dikelolanya sendiri di masa depan. Adanya tawaran ‘wealth management’ yang kreatif akan membuat individu yang bekerja sebagai karyawan akan mempunyai pandangan yang  berbeda tentang ‘kekayaannya’. Mau tidak mau, kita pun harus meninjau kembali pandangan
mengenai ‘kerja keras’. Kaum muda sekarang lebih bisa merasa sukses bila bisa mengelola pekerjaan, sekaligus mengurus dan mengirim anak-anak ke pendidikan yang bermutu. Inilah sebabnya, kita perlu berusaha untuk menciptakan suasana kerja di mana karyawan bisa merasa berada dalam kultur yang dinamis, bisa menampung aspirasi dan bisa inspiratif pula.

Komunikasikan sukses
Bila karyawan sudah memutuskan untuk pergi dari perusahaan, kita kerap merasa bahwa ‘exit interview’ sudah terlambat, sudah sulit untuk bisa memenangkan lagi hati karyawan. Jadi sebetulnya, hal yang lebih penting adalah melakukan ‘stay interview’, di mana kita. justru bisa mendapatkan ide-ide, apa yang membuat karyawan ‘happy’ dan apa yang bisa membuatnya lebih happy lagi. Hal yang juga penting adalah memahami bahwa ‘reward’ saat sekarang tidak sekedar finansial tetapi juga mental. Orang bisa dianggap sukses bukan sekedar dari ‘performance’ langsungnya, tetapi karena sikapnya. Cara bersikap yang bermotivasi, penuh respek dan positif juga bisa di‘klaim’ sebagai tindakan kesuksesan yang bisa di ‘reward’.
Di masa sekarang, di mana orang bisa menyaksikan kesuksesan secara instan, diberikannya ‘award-award’ kesuksesan yang langsung bisa dilihat dari multimedia, bahkan secara ‘realtime’, kita pun perlu memikirkan cara mengenai bagaimana setiap individu dalam organisasi merasakan ‘celebration’ yang sama. Hal-hal sederhana seperti makan bersama karena proyek berhasil diselesaikan dengan baik, tepukan tulus ‘good job’ pun tidak bisa diabaikan karena selalu ampuh untuk bisa membuat karyawan merasa sukses.

From EXPERD – Eileen Rachman & Sylvina Savitri –  Dimuat di Kompas, 8 Desember 2012

Post Navigation